Inovasi Program Unggulan “LILIS SEJAHTERA” DPK Bangka Barat Raih Penghargaan PPD Terbaik 2026
MENTOK,
DPK BABAR – Sebuah prestasi
yang membanggakan, dimana Inovasi Program Unggulan Lingkaran Literasi Inklusi
Sosial Untuk Kesejahteraan (LILIS SEJAHTERA) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
(DPK) Kabupaten Bangka Barat meraih Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2026, yang diumumkan Bappeda Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung baru-baru ini.
Kepala
DPK Bangka Barat, Farouk Yohansyah menyampaikan, penghargaan PPD Tahun 2026
merupakan hasil kolaborasi seluruh perangkat daerah, pemerintah desa,
komunitas, dan masyarakat dalam membangun sumber daya manusia yang lebih
berkualitas.
Dijelaskannya,
melalui inovasi LILIS SEJAHTERA, DPK Bangka Barat menghadirkan paradigma baru
bahwa perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku,
melainkan pusat pembelajaran masyarakat, ruang pemberdayaan ekonomi, sarana
peningkatan keterampilan, serta wahana pendidikan sepanjang hayat.
Transformasi
perpustakaan yang dilakukan Bangka Barat berangkat dari sebuah keyakinan
sederhana namun kuat: pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari
peningkatan kualitas manusia.
Melalui
konsep tersebut, katanya, perpustakaan hadir langsung di tengah masyarakat
dengan berbagai program pendidikan dan pemberdayaan. Salah satu inovasi yang
dinilai memiliki dampak signifikan adalah pembentukan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) yang terintegrasi dengan layanan perpustakaan daerah maupun
perpustakaan desa.
“Kami
sangat bersyukur sekaligus bangga atas raihan prestasi yang dicapai ini.
Prestasi ini diraih tidak mudah karena kita berkompetisi dengan beberapa kabupaten di Tingkat
Provinsi. Dan alhamdulillah tahun ini kami bisa meraih prestasi terbaik
tersebut,” ucapnya Jumat (31/7/2026).
Program
ini, diungkapkannya lebih lanjut, memberikan kesempatan bagi masyarakat yang
putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan melalui jalur nonformal.
Kehadiran PKBM tidak hanya membuka akses pendidikan yang lebih luas, tetapi
juga turut berkontribusi dalam peningkatan Angka Lama Sekolah (ALS) masyarakat
Bangka Barat.
Selain
itu, perpustakaan juga aktif menggelar program pemberantasan buta aksara,
pendidikan kesetaraan, literasi digital, pelatihan keterampilan masyarakat,
pembinaan UMKM, hingga penguatan kapasitas kelompok-kelompok masyarakat
berbasis potensi lokal.
Hingga
tahun 2026, Farouk menyebutkan, konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial
telah direplikasi di 11 perpustakaan desa di Bangka Barat. Masing-masing
perpustakaan mengembangkan program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
setempat.
Perpustakaan
desa tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca buku, tetapi berkembang menjadi
pusat kegiatan masyarakat yang menghadirkan pelatihan keterampilan, ruang
belajar anak-anak, kelas literasi digital, hingga pendampingan usaha
masyarakat.
“Pembangunan
yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk belajar,
meningkatkan keterampilan, dan memperbaiki kualitas hidupnya. Melalui
perpustakaan berbasis inklusi sosial, kami berupaya memastikan bahwa akses
terhadap pengetahuan dan pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat.”
Menurutnya,
keberhasilan program perpustakaan dalam mendukung peningkatan akses pendidikan,
penguatan literasi masyarakat, serta pengentasan buta aksara menjadi bukti
bahwa perpustakaan mampu bertransformasi menjadi salah satu instrumen
pembangunan daerah yang strategis.
“PPD
tahun 2026 menjadi bukti bahwa inovasi sosial berbasis literasi mampu
memberikan dampak nyata terhadap pembangunan. Pembangunan yang tidak hanya
membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun manusia menuju Bangka Barat
yang Bermartabat,” ujarnya.
Selain
itu, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah desa
dan keterlibatan aktif masyarakat.
"Kami
tidak membangun perpustakaan hanya sebagai tempat membaca. Kami membangun
perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Melalui PKBM,
pendidikan kesetaraan, literasi digital, pelatihan keterampilan, dan berbagai
program pemberdayaan lainnya, perpustakaan hadir untuk membantu masyarakat
meningkatkan kapasitas dirinya. Saat ini kegiatannya sudah direplikasikan di 11
desa serta telah menunjukkan bahwa model ini diterima dan dirasakan manfaatnya
secara nyata oleh masyarakat," ungkap Farouk.
Kualitas
sumber daya manusia, sambung dia, kini menjadi indikator utama keberhasilan Pembangunan,
karena inovasi yang mendorong peningkatan pendidikan, literasi, dan kapasitas
masyarakat memiliki nilai strategis yang semakin tinggi dalam proses
pembangunan daerah.
Penulis:
ZL
Foto:
ZL
Editor:
Ahmad