Perpusda Babar Terima Kunjungan Siswa Sahabat Sekolah Dasar Negeri 23 Mentok




MENTOK, DPK BABAR -  Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Bangka Barat (Babar), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), kembali menerima kunjungan siswa. Kali ini, adalah para siswa dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 23 Mentok, yang merupakan SD yang dipercaya menjadi satu-satunya perwakilan dari Babel dalam program Sahabat Sekolah Dasar. 

Kepala SDN 23 Mentok, Ujang Sugara yang memimpin kunjungan itu, Senin (14/9/2026) mengatakan, dalam kunjungan ke Perpusda Babel, pihaknya turut didampingi Sahabat SDN 23 Mentok Bangka Barat bersama guru pendamping Sahabat Sekolah Dasar Rica Khoirany, seorang pustakawan SDN 23 Mentok Leni Septriana, beserta 30 murid perwakilan dari setiap kelas di SDN 23 Mentok.

Kunjungan ke Perpusda ini, dikatakannya, sebagai salah satu aksi nyata yang sudah dirancang pada akhir Agustus 2026 lalu.


Sahabat Sekolah Dasar, dijelaskannya, diharapkan dapat menjadi sahabat, penggerak dan agen perubahan di sekolah. Bukan hanya memperkuat kebiasaan positif dalam menerapkan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat dan Rukun Sama Teman, tetapi juga menjadi mitra teman-temannya dalam memperkuat kemampuan berliterasi, membudayakan membaca agar dekat dengan keseharian murid, khususnya di SDN 23 Mentok.

“Intinya, Sahabat Sekolah Dasar itu merupakan duta sekolah dasar yang melalui seleksi tingkat nasional/program Kemendikdasmen. SDN 23 Mentok terpilih, karena lolos seleksi administrasi, lolos seleksi tahap 1 & 2, sehingga menjadi satu-satunya sekolah dasar perwakilan Babel yang beruntung dapat mengikuti program Sahabat Sekolah Dasar 2026, selain 79 sekolah lainnya yang terpilih se-Indonesia,” ungkapnya.

Mereka yang tergabung dalam sahabat sekolah dasar, dan merupakan murid SDN 23 Mentok, diantaranya Afrillia Shakeera-kelas 5, Rendi Sugiarto-kelas 5, M. Albi Oktino-kelas 4, dan Melisa Tristiana -kelas 4, yang akan menjadi agen perubahan budaya positif di sekolah, terutama dalam penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat & Rukun Sama Teman.


“Kehadiran Sahabat Sekolah Dasar Bangka Barat 2026, diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan ide, kolaborasi, dan aksi nyata. Dari Bangka Barat untuk Bangka Belitung, dan dari Bangka Belitung untuk Indonesia, setiap langkah kecil di sekolah diharapkan dapat menjadi inspirasi besar bagi terwujudnya pendidikan dasar yang berkualitas dan berkelanjutan,” terangnya.

Guru pendamping SD 23 Rica Khoirany, menambahkan, Sahabat Sekolah Dasar Bangka Barat 2026 merupakan sebuah gerakan kolaboratif dan inspiratif yang diinisiasi untuk menghadirkan praktik-praktik baik dalam peningkatan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar.

Program ini menjadi ruang bagi guru, sekolah, peserta didik, orang tua, dan berbagai pihak untuk bersama-sama menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, inklusif, serta berorientasi pada tumbuh kembang dan karakter peserta didik.

“Pada tahun 2026, Sahabat Sekolah Dasar Bangka Barat dari SDN 23 Mentok dipercaya menjadi satu-satunya perwakilan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program Sahabat Sekolah Dasar. Kepercayaan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus amanah untuk membawa nama baik Kabupaten Bangka Barat Babel melalui berbagai inovasi, aksi nyata, serta praktik baik pendidikan yang memberikan dampak positif bagi peserta didik dan lingkungan sekolah,” tuturnya.

Setelah melalui berbagai seleksi, SDN 23 Mentok menjadi salah satu dari 80 sekolah yang beruntung terpilih menjadi Sahabat Sekolah Dasar 2026.

Melalui semangat “Bergerak, Berkolaborasi, Menginspirasi”, Sahabat Sekolah Dasar Bangka Barat, ditambahkannya, menghadirkan berbagai aksi nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik, antara lain penguatan literasi dan numerasi, pembiasaan hidup sehat, kegiatan olahraga bersama, kepedulian terhadap lingkungan, penguatan karakter, budaya positif, serta gerakan membangun kerukunan dan kebersamaan antarsesama.

Program ini, sebut dia, tidak hanya berfokus pada kegiatan, tetapi juga pada dampak dan keberlanjutan. Setiap aksi dirancang sebagai upaya untuk menumbuhkan peserta didik yang sehat, cerdas, berkarakter, kreatif, percaya diri, peduli, dan mampu hidup berdampingan secara harmonis.

Tak hanya itu, duru pun, ditekannya, didorong untuk terus belajar, berinovasi, berbagi praktik baik, dan menjadi penggerak perubahan di lingkungan pendidikan.

Terpisah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Bangka Barat, Farouk Yohansyah, Momentum Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September tersebut, menjadi kesempatan bagi Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat untuk terus memperkuat budaya membaca sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Pada momentum tersebut, Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat menerima kunjungan SDN 23 Mentok, yang merupakan Sekolah Dasar (SD) yang dipercaya menjadi satu-satunya perwakilan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program Sahabat Sekolah Dasar.  

Setelah melalui berbagai seleksi, SDN 23 Mentok  terpilih mewakili Bangka Barat di tingkat nasional dan akan bersaing dengan 79 SD dari berbagai daerah di Indonesia untuk dipilih menjadi Sahabat Sekolah Dasar 2026.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan SDN 23 Mentok ke Perpustakaan Daerah pada momentum Hari Kunjung Perpustakaan. Terlebih sekolah ini membawa nama Bangka Barat dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program Sahabat Sekolah Dasar dan masuk  80 (delapan puluh) sekolah yang mewakili Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, kunjungan perpustakaan bagi anak-anak harus dikemas sebagai pengalaman yang menyenangkan sehingga perpustakaan tidak dipersepsikan sebagai tempat yang kaku, melainkan sebagai ruang belajar yang terbuka dan ramah anak.

“Hari ini anak-anak tidak hanya datang untuk membaca buku. Mereka mendapatkan materi literasi, mengikuti permainan literasi, dan berinteraksi secara langsung dalam suasana yang menyenangkan. Inilah wajah perpustakaan yang ingin terus kita bangun, yaitu perpustakaan sebagai ruang tumbuh bagi anak-anak.”

Ia berharap semakin banyak sekolah di Bangka Barat menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.

“Kami ingin anak-anak Bangka Barat tumbuh menjadi generasi yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Perpustakaan harus hadir sebagai mitra sekolah dalam membangun generasi tersebut,” tandasnya.

Momentum Hari Kunjung Perpustakaan ini, diharapkannya, menjadi pengingat bahwa perpustakaan merupakan ruang publik yang terbuka bagi seluruh masyarakat. Dari kunjungan anak-anak, tumbuh kebiasaan membaca; dari kebiasaan membaca, tumbuh pengetahuan; dan dari pengetahuan, diharapkan lahir generasi Bangka Barat yang semakin kreatif, cerdas, dan berdaya saing.

Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Eka Octawianto, menyampaikan, kunjungan SDN 23 Mentok menjadi momentum yang sangat positif untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan perpustakaan.

“Kunjungan ini menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang kelas. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga mendapatkan pengalaman literasi melalui penyampaian materi dan game literasi yang dikemas secara interaktif.”

Menurut Eka, metode pembelajaran literasi yang menyenangkan sangat penting untuk membangun kedekatan anak dengan perpustakaan sejak usia dini.

“Kami ingin anak-anak datang ke perpustakaan bukan karena kewajiban, tetapi karena mereka merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Ketika anak sudah merasa bahwa perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, maka kebiasaan membaca dan belajar akan tumbuh secara alami.”

Ia juga memberikan apresiasi terhadap SDN 23 Mentok yang berhasil masuk  80 sekolah dari seluruh Indonesia dalam program Sahabat Sekolah Dasar.

“Ini merupakan kebanggaan bagi Bangka Barat. Masuknya SDN 23 Mentok dalam 80 sekolah se-Indonesia menunjukkan adanya potensi dan praktik baik yang patut kita dukung. Kami berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya di Bangka Barat untuk terus mengembangkan budaya literasi.”

Eka menambahkan, Perpustakaan Daerah akan terus membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan berbagai pihak untuk menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan sesuai dengan karakter generasi muda.

“Literasi tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang formal. Membaca, bermain, berdiskusi, bercerita, dan bereksplorasi juga merupakan bagian dari proses literasi. Yang terpenting adalah bagaimana anak memperoleh pengetahuan sekaligus menikmati proses belajarnya,” ujar Eka.