Perpusda Bangka Barat Terima Hibah Buku Tragedi PD II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah




MENTOK, DKP BABAR – Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Bangka Barat (Babar), kini semakin dikenal oleh masyarakat, termasuk peran dan fungsinya. Oleh karena itu, pada Rabu (7/1/2026) kemarin, Perpusda Babar menerima hibah buku “Tragedi Perang Dunia ke-II di Kota Mentok Dalam Kilasan Sejarah”.

Buku tersebut diserahkan secara oleh Syarifudin Isa selaku Penulis kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Babar, Farouk Yohansyah di Gedung Perpustakaan Bangka Barat dalam kegiatan Launching dan Hibah Buku “Tragedi Perang Dunia ke-2 di Kota Mentok Dalam Kilasan Sejarah”.

Kepala DPK Babar, Farouk mengatakan, Perpusda Babar sangat mendukung khususnya kegiatan peningkatan sejarah Bangka Barat, dan berterima kasih kegiatan Launching dan Hibah Buku ini.

Launching dan Hibah Buku “Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah” ini merupakan momentum penting dalam upaya pelestarian memori kolektif dan penguatan literasi sejarah di Kabupaten Bangka Barat.

Buku ini, menurutnya, tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang jejak sejarah Kota Mentok sebagai bagian dari dinamika global Perang Dunia II.

“Sebagai daerah yang memiliki nilai sejarah strategis, Mentok menyimpan banyak kisah perjuangan, penderitaan, dan ketangguhan manusia yang patut dikenang dan dipelajari oleh generasi masa kini dan masa depan. Melalui launching dan hibah buku ini, sejarah lokal tidak hilang oleh waktu, melainkan terdokumentasi, dipahami, dan diwariskan sebagai sumber pembelajaran yang berharga,” ungkapnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga, kata dia, sebagai memperkuat literasi berbasis kearifan lokal, serta menjadikan arsip dan buku sejarah sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dengan adanya dihibah buku ini, ditambahkannya, akan menambah khasanah koleksi sejarah  perang dunia II di Kota Mentok yang ada di peprustakaan. “Buku ini akan kami tempatkan dikoleksi khusus karena terbatas, ini termasuk koleksi dokumenter yang tidak dipinjamkan secara umum tetapi kalau ada pemustaka yang ingin baca bisa membacanya di perpustakaan,” katanya.

“Selanjutnya kami berharap tulisan ini dapat memicu atau pemantik kawan-kawan lain untuk berkarya dengan hal sejenis. Karena, kita punya beberapa bahan yang bisa diangkat menjadi sebuah karya dan kawan-kawan lain bisa berkolaborasi untuk kegiatan menulis,” ujar Farouk.

Farouk mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada penulis, sejarawan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan penerbitan buku ini. Hibah buku kepada perpustakaan diharapkan dapat memperluas akses pengetahuan serta menumbuhkan kesadaran sejarah, khususnya di kalangan generasi muda.

“Semoga buku ini menjadi sumber inspirasi, bahan pembelajaran, dan pengingat bahwa sejarah adalah fondasi penting dalam membangun jati diri, karakter, dan masa depan Bangka Barat yang berbudaya dan berpengetahuan,” harap Farouk.

Syarifudin Isa, Penulis Buku “Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah” menjelaskan, buku dokumenter ini mengulas secara kronologis peristiwa-peristiwa penting selama Perang Dunia II, mulai dari konteks global jatuhnya Pearl Harbour, masuknya tentara Jepang ke Mentok, hingga berbagai penyerangan dan pendudukan di wilayah tersebut.

Judul buku yang di launching ini yaitu ”Tragedi Perang Dunia Ke II Di Kota Mentok Dalam Kilas Sejarah”. “Kenapa saya ambil kata Dalam Kilas Sejarah, karena dari sepengetahuan dan  info yang saya dapat,  perang di Kota Mentok terutama masyarakat tidak ada aktifitas mengenai keterkaitan dengan perang  dunia ke II tersebut. Kecuali kegiatan masyarakat kota Mentok pada saat ada di luar dari pada kondisi perang itu sendiri yaitu pada saat evakuasi korban perang,” terangnya. 

Saat evakuasi, ulas dia, ini barulah berkaitan dengan Kota Mentok. Disini ada suatu peristiwa yang sangat  tragis pada saat perang dunia ke II yaitu tengelamnya kapal Vyner Brooke yang membawa pekerja dari Singapura warga negara Inggris, Autralia dan New Zealand, pembantaian di Radji Beach, kisah meninggalnya Vivian Gordon Bowden, serta kesaksian sejarah dari Vivian Bullwinkel. Narasi tersebut membawa pembaca memahami sejarah dari sisi kemanusiaan dan dampak perang terhadap masyarakat Mentok.

“Kenapa Saya menulis buku ini? Supaya masyarakat atau pun next generasi  mengetahui bahwa perang di kota Mentok itu pada saat perang dunia ke-II itu apa?. Apa sih konteks pada saat perang dunia ke II di kota Mentok?. Nah, disini sebetulnya letak strategis posisi geografis kota Mentok menyinggung perang dunia ke-II bisa menjadi satu potensi untuk pengembangan daerah kita,” kata Isa.

Salah satu contoh potensi dari tragedi perang dunia ke-II di Mentok, kata dia, yaitu dirinya bisa membuat satu meseum (peace meseum) di Karanggan Atas tanpa APBD. “Ini salah satu potensi sejarah yang sudah saya aplikasikan lewat jaringan perang dunia ke II di kota Mentok. Potensi meseum yang ada di Karanggan Atas adalah hasil dari kaitan dengan perang,” tuturnya.

Meseum ini, disebutkannya, di bangun hasil dari donasi para keluarga korban perang ke II di Kota Mentok yang ada di luar negeri seperti Inggris, New Zealand, dan Australia karena Mentok merupakan kota sejarah para leluhur mereka karena keluarga mereka ada yang di makam di Mentok pada saat terjadinya tragedi perang dunia ke II. Inilah salah satu bukti asat sejarah yang dapat dikembangkan potensinya kedepan.

Penulis : ZL

Foto      : ZL

Editor   : Ahmad